Operasionalisasi Konsep

Operasionalisasi Konsep 
Sebagaimana terumus dalam perumusan masalah, penelitian ini memfokuskan bagaimana tingkat ICT literacy mahasiswa. Variabel yang diduga mempunyai hubungan terhadap tingkat ICT literacy meliputi status sosial ekonomi, prestasi belajar, dan mobilitas mahasiswa dalam mencari sumber belajar. 

Konsep status sosial ekonomi mengacu pada pandangan sosiologis yang diukur dari tingkat pengeluaran rata-rata secara periodik dan tingkat pendidikan seseorang. Dalam penelitian ini tingkat pengeluaran responden dilihat dalam satuan bulanan, yaitu berapa rupiah pengeluaran mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup per bulan. Di samping itu, akan dilihat tingkat pendidikan responden dengan rentang jenjang sekolah dasar hingga pascasarjana. 

Sedangkan konsep prestasi belajar mahasiswa adalah pencapaian prestasi akademik yang diperoleh selama belajar di perguruan tinggi berdasarkan standar kompetensi yang telah ditetapkan. Ukuran prestasi akademik ini diukur melalui instrumen evaluasi sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan akademik. Dalam penelitian ini prestasi mahasiswa diukur dari Indeks Prestasi Kumulatif yang telah dicapai selama belajar di perguruan tinggi. 

Konsep mobilitas mencari sumber belajar adalah tindakan seseorang dalam memenuhi kebutuhan informasi belajar yang ditunjukan melalui tinggkat pergerakan dan aktivitas di pusat-pusat sumber belajar, seperti perpustakaan, toko buku, museum, dan lain-lain. Dalam penelitian ini mobilitas mencari sumber belajar akan diukur melalui frekuensi kunjung mahasiswa ke berbagai pusat sumber belajar. 

Sementara itu, konsep ICT literacy mengacu pada definisi yang dirumuskan oleh Unesco, adalah keahlian dalam menggunakan tekonologi digital, peralatan komunikasi, dan/atau terlibat dalam jaringan untuk mengakses, mengelola, menyatukan, mengevaluasi, dan membuat informasi agar dapat berfungsi dalam masyarakat berpengetahuan.Dalam melek ICT itu sendiri mengandung tiga dimensi, yang meliputi dimensi pengetahuan, keahlian, dan perilaku.

Adapun indikator melek ICT dapat diidentifikasi melalui tingkat kompetensi utama dalam tiga dimensi tersebut.Pada dimensi pengetahuan mereka yang dianggap teleh melek ICT jika telah memiliki kompetensi utama seperti: (1) Akrab dengan HP, komputer, dan internet; (2) mempunyai keahlian dalam mengidentifikasi ICT; (3) mempunyai apresiasi terhadap fungsi-fungsi potensial ICT dalam kehidupan sehari-hari; (4) mempunyai pengetahuan dasar dalam menggunakan ICT, untuk HP misalnya dapat menelpon dan ber-sms; untuk komputer dapat mengetahui bahasa komputer, data dasar, dan penyimpanan informasi; sedangkan untuk internet misalnya mengetahui browsing dan e-mail; dan (4) dapat membedakan antara dunia maya dan dunia nyata. 

Pada dimensi keahlian, mereka yang dianggap melek ICT jika telah memiliki kompetensi utama seperti: (1) dapat menggunakan fitur-fitur dan aplikasi-aplikasi ICT, untuk HP misalnya dapat menelpon, sms, memotret, memutar radio dan tape recorder, bluetooth, dan mengkoneksikan dengan internet dll. Untuk komputer dapat mengaplikasikan menulis, database, dan penyimpanan informasi, dan untuk internet dapat mengaplikasikan browsing jaringan dan e-mail; (2) dapat mengakses dan mencari website seperti misalnya mencatatkan diri pada internet, mengoperasikan mesin pencari, menggunakan kata-kata kunci dll.; (3) dapat menggunakan layanan internet seperti membuka email dan mengemail, mengunduh data, ikut diskusi dalam jaringan internet, membuat blog dll.; (4) dapat memproses dan mengoleksi data elektronik; (5) dapat mengubah data menjadi tampilan data grafik dan format-format visual lainnya; (6) dapat memanfaatkan ICT untuk mendukung berpikir kritis, kreativitas dan berinovasi untuk kepentingan pendidikan, jaringan kerja, dan tujuan rekreatif; dan (7) dapat membedakan kredibilitas seperti misalnya perbedaan relevan dan tidak relevan, subyektif dan obyektif, serta dapat membedakan sesuatu itu riil atau maya. 

Pada dimensi perilaku, mereka dianggap melek ICT jika mempunyai kompetensi utama seperti: (1) mempunyai keahlian menggunakan ICT secara individual maupun kerja tim; (2) bertanggungjawab dalam menggunakan teknologi, memiliki daya kepekaan dalam mengamankan dan bertanggungjawab dalam menggunakan internet; (3) senantiasa bersikap kritis dan reflektif ketika mendapatkan informasi dalam arti sadar bahwa ada motif dagang dalam teknologi; (3) memahami akan konsekuensi dalam menggunakan ICT, memiliki kemampuan dalam memahami formasi dampak penggunaan ICT dari nilai-nilai dan tanggungjawab, praksis komunikasi, dan perilaku-perilaku lainnya; dan (4) mempunyai kemampuan dalam menilai secara kritis tentang dampak teknologi.

Berdasarkan kajian teoretik, bahwa tingkat ICT literacy dipengaruhi oleh faktor-faktor non-teknis yang berbasis status sosial ekonomi dan prestasi belajar. Dalam penelitian ini, secara teoretis terdapat hubungan antara status sosial-ekonomi, prestasi belajar, dan mobilitas mencari sumber dengan tingkat ICT literacy. Status sosial ekonomi dan prestasi belajar responden diposisikan sebagai indipenden variable, sedangkan tingkat ICT literacy diposisikan sebagai dependent variable. Sementara itu, mobilitas mencari sumber belajar diposisikan sebagai variabel antara. Hubungan antarvariabel dapat dilihat pada diagram berikut