Pengertian Kas dan Sistem Akuntansi Penerimaan Kas

Pengertian Kas dan Sistem Akuntansi Penerimaan Kas 
Menurut IAI, seperti pada Standar Akuntansi Keuangan (2011, pasal 2), “Kas terdiri dari saldo kas (cash on hand) dan rekening giro. Setara kas (cash equivalent) adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka pendek, dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi resiko perubahan nilai yang signifikan.”

Kas merupakan alat pembayaran yang sah. Memiliki 2 kriteria, yaitu :
1. Tersedia, berarti kas harus ada dan dimiliki serta dapat digunakan sehari-hari sebagai alat pembayaran untuk kepentingan perusahaan.
2. Bebas, setiap item dapat diklasifikasikan sebagai kas, jika diterima umum sebagai alat pembayaran sebesar nilai nominalnya.

Menurut Mulyadi (2008:439), sistem akuntansi penerimaan kas adalah suatu catatan yang dibuat untuk melaksanakan kegiatan penerimaan uang dari penjualan tunai atau dari piutang yang siap dan bebas digunakan untuk kegiatan umum perusahaan. Penerimaan kas perusahaan berasal dari dua sumber utama, yaitu penerimaan kas dari penjualan tunai dan penerimaan kas dari piutang.

Sistem Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai
Definisi menurut Mulyadi (2008:455), sumber penerimaan kas terbesar suatu perusahaan dagang adalah berasal dari transaksi penjualan tunai. Berdasarkan sistem pengendalian intern yang baik, sistem penerimaan kas dari penjualan tunai mengharuskan :
1. Penerimaan kas dalam bentuk tunai harus segera disetor ke bank dalam jumlah penuh dengan cara melibatkan pihak lain selain kasir untuk melakukan internal check.
2. Penerimaan kas dari penjualan tunai dilakukan melalui transaksi kartu kredit, yang melibatkan bank penerbit kartu kredit dalam pencatatan penerimaan kas.

Sistem Penerimaan Kas dari Piutang
Definisi menurut Mulyadi (2008:493), menjelaskan bahwa untuk menjamin diterimanya kas oleh perusahaan, sistem penerimaan kas dari piutang mengharuskan:
1. Debitur melakukan pembayaran dengan cek atau dengan cara pemindahbukuan melalui rekening bank (giro bilyet). Jika perusahaan hanya menerima kas dalam bentuk cek atas nama perusahaan , akan menjamin kas yang diterima oleh perusahaan masuk ke rekening giro bank perusahaan. Pemindahbukuan juga akan memberikan jaminan penerimaan kas masuk ke rekening giro bank perusahaan.
2. Kas yang diterima dalam bentuk cek dari debitur harus segera disetor ke bank dalam jumlah penuh.”

Penerimaan kas dari piutang dapat dilakukan melalui berbagai cara, adalah sebagai berikut:
1. Melalui penagihan perusahaan
2. Melalui pos
3. Melalui Lock-box collection plan

Prosedur Sistem Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai dan Piutang
Menurut Mulyadi (2008:456), sistem penerimaan kas dari penjualan tunai dibagi dalam tiga prosedur sebagai berikut: 

1. Penerimaan Kas dari Over-the Counter Sale.
Dalam penjualan tunai ini, pembeli datang ke perusahaan, melakukan pemilihan barang atau produk yang akan dibeli, melakukan pembayaran ke kasir, dan kemudian menerima barang yang dibeli. Prosedur-prosedur yang dijalankan dalam penerimaan kas dari Over-the Counter Sale dengan langkah pembeli memesan barang langsung kepada Wiraniaga (sales-person) di Bagian Penjualan; Bagian Kas menerima pembayaran dari pembeli dapat berupa uang tunai, atau kartu kredit; Bagian Penjualan memerintahkan Bagian pengiriman untuk menyerahkan barang kepada Pembeli; Bagian Kasa menyetorkan kas yang diterima ke Bank; Bagian Akuntansi mencatat pendapatan penjualan dalam jurnal penjualan; Bagian Akuntansi mencatat penerimaan kas dari Penjualan tunai dalam jurnal penerimaan kas.

2. Penerimaan Kas dari COS Sales
Cash-On-Delevery Sales (COD Sales) adalah transaksi penjualan yang melibatkan kantor pos, perusahaan angkutan umum, atau angkutan sendiri dalam penyerahan dan penerimaan kas dari hasil penjualan. COD Sales merupakan sarana untuk memperluas daerah pemasaran dan untuk memberikan jaminan penyerahan barang bagi pembeli serta jaminan penerimaan kas dari perusahaan penjual.

3. Penerimaan Kas dari Credit Card Sales
Merupakan salah satu cara pembayaran bagi pembeli dan sarana pembayaran bagi pembeli, baik dalam Over-the Counter Sales maupun dalam penjualan yang pengiriman barangnya dilaksanakan melalui COS Sales. Dalam Over-the Counter Sales, pembeli datang ke perusahaan melakukan pemilihan barang atau produk yang akan dibeli, melakukan pembayaran ke kasir dengan menggunakan kartu kredit. Dalam penjualan tunai yang melibatkan COS Sales, pembeli tidak perlu datang ke perusahaan penjual. Pembeli memberikan persetujuan tertulis untuk penggunaan kartu kredit dalam pembayaran barang.

Sedangkan Menurut Mulyadi (2008:494), sistem penerimaan kas dari piutang terbagi atas penjelasan sebagai berikut:
1. Penerimaan kas dari piutang melalui penagihan perusahaan dilaksanakan dengan prosedur berikut ini: 
a. Bagian piutang memberikan daftar piutang yang sudah saatnya ditagih kepada bagian penagihan.
b. Bagian Penagihan mengirimkan penagih untuk melakukan penagihan kepada debitur.
c. Bagian Penagihan menerima cek atas nama dan surat pemberitahuan dari debitur.
d. Bagian Penagihan menyerahkan cek kepada Bagian Kasa.
e. Bagian Penagihan menyerahkan surat pemberitahuan kepada Bagian Piutang untuk kepentingan posting ke dalam kartu piutang.
f. Bagian Kasa mengirim kuitansi tanda penerimaan kas kepada debitur.
g. Bagian Kasa menyetorkan cek ke bank untuk melakukan clearing atas cek tersebut.

2. Penerimaan kas dari piutang melalui pos dilaksanakan dengan prosedur berikut ini:
a. Bagian Penagihan mengirim Faktur Penjualan kepada debitur pada saat transaksi terjadi.
b. Debitur mengirim cek atas nama dan surat pemberitahuan melalui pos.
c. Bagian Sekretariat menerima cek atas nama dan surat pemberitahuan dari debitur. Cek atas nama diserahkan ke Bagian Kasa dan surat pemberitahuan kepada Bagian Piutang untuk diposting ke dalam Kartu Piutang
d. Bagian Kasa mengirim kuitansi kepada debitur sebagai tanda terima pembayaran dari debitur.

3. Penerimaan kas dari piutang melalui Lock-box collection plan dilaksanakan dengan prosedur berikut ini:
a. Bagian Penagihan mengirim Faktur Penjualan kepada debitur pada saat transaksi terjadi.
b. Debitur melakukan pembayarannya pada saat faktur jatuh tempo dengan mengirimkan cek dan surat pemberitahuan ke PO Box di kota terdekat.
c. Bank membuka PO Box, mengumpulkan cek dan surat pemberitahuan yang diterima perusahaan. Serta membuat daftar surat pemberitahuan dan mengurus check clearing.
d. Bagian Kasa menyerahkan daftar surat pemberitahuan ke Bagian Akuntansi untuk dicatat ke dalam jurnal penerimaan kas.

Informasi yang Diperlukan oleh Manajemen
Menurut Narko (2008), informasi yang umumnya diperlukan manajemen dalam penerimaan kas dari penjualan tunai adalah :
1. Jumlah pendapatan penjualan menurut jenis produk atau kelompok produk selama jangka waktu tertentu.
2. Jumlah kas yang diterima dari penjualan tunai.
3. Jumlah harga pokok produk yang dijual selama jangka waktu tertentu.
4. Nama dan alamat pembeli.
5. Kuantitas produk yang dijual.
6. Nama wiraniaga yang melakukan penjualan.
7. Otorisasi pejabat yang berwenang.

Dokumen dan Catatan Akuntansi yang Digunakan
Pencatatan transaksi penjualan barang dagangan tidak lepas dari dokumen-dokumen. Dokumen-dokumen yang biasa digunakan dalam mencatat sistem akuntansi penerimaan kas dari penjualan tunai adalah:

1. Faktur penjualan tunai
Faktur penjualan tunai disini berfungsi memerintah kepala bagian kasa untuk menerima uang dari pembeli sejumlah yang tercantum dalam dokumen tersebut.

2. Pita register kas (Cash Register Tape)
Pita register kas (cash register tape) digunakan untuk mendukung faktur penjualan tunai yang dicatat dalam jurnal penjualan sebagai bukti penerimaan kas dari bagian kas.

3. Credit Card Sales Slip
Dokumen Credit Card Sales Slip, diisi oleh bagian kas dan berfungsi sebagai alat menagih uang tunai dari bank yang mengeluarkan kartu kredit. Sebagai transaksi penjualan yang dilakukan oleh pemegang kartu kredit.

4. Bill of lading
Dokumen Bill of Lading digunakan sebagai bukti penyerahan barang dari perusahaan penjualan barang dalam penjualan COD (Cash-On-delivery).

5. Faktur penjualan COD
Selain itu faktur penjualan (Cash-On-delivery) digunakan pula sebagai perekam berbagai informasi yang diperlukan untuk manajemen mengenai transaksi penjualan tunai.

6. Bukti setor bank
Bukti setor bank digunakan sebagai bukti penyetoran kas dari penjualan tunai ke bank. Adapun bukti setoran bank ini dipakai oleh bagian akuntansi sebagai dokumen sumber untuk pencatatan transaksi penerimaan kas atas penjualan tunai ke dalam jurnal penerimaan kas.

7. Rekapitulasi harga pokok penjualan
Dokumen ini digunakan bagian akuntansi untuk meringkas harga pokok produk yang dijual selama satu periode dan sebagai dokumen pendukung bagi pembuatan bukti memorial untuk mencatat harga pokok produk yang dijual.

8. Jurnal Penerimaan Kas
Kas                                                   ---
         Penjualan Tunai                                               ---
Untuk mencatat penerimaan kas dari penjualan tunai.

Model Komunikasi Sirkuler dari Osgood dan Schramm

Model Komunikasi Sirkuler dari Osgood dan Schramm 
Model proses komunikasi ini terutama berlaku untuk bentuk-bentuk komunikasi antarpribadi. Dijelaskan bahwa proses komunikasi berjalan secara sirkuler, dimana masing-masing pelaku secara bergantian bertindak sebagai komunikator/sumbedan komunikasi/penerima. 

Proses komunikasinya dapat digambarkan sebagai berikut: 
Pertama, pelaku komunikasi yang pertama kali mengambil inisiatif sebagai sumber/komunitor membentuk pesan (encoding) dan menyampaikam melalui suatu saluran komunikasi kepada lawan komunikasi bertindak sebagi penerima/komunikan komunikasinya adalah percakapan langsung secara tatap muka yang menjadi salurannya adalah gelombang udara. Saluran komunikasi yang digunaan dapat berbagai macam contohnya adalah telepon, surat dan lainnya. Kedua, pihak penerima/komunikan setelah menerima pesan akan mengartikan (decoding) dan menyampaikannya kembali. Kali ini ia bertindak sebagai sumber dan tanggapan atau reaksinya yang disebut sebagai umpan balik. Ketiga, pihak sumber/komunikator yang pertama sekarang yang berindak sebagai penerima komunikan. Ia akan mengartikan dan menginterpretasikan pesan yag dierimanya dan jika ada tanggapan/reaksi, ia akan membentuk pesan dan menyampaikannya kembali ke pasangan komunikasinya. Demikianlah proses ini berlangsung secara terus-menerus secara sirkuler. Dengan demikian, menurut model ini masing-masing pelaku komunikasi akan terlibat dalam proses pembentukan pesan (encoding), penafsiran (interpeting) pesan, serta penerimaan dan pemecahan kode pesan (decoding).


Model Komunikasi Riley & Riley
Proses komunikasi pada model-model yanng terdahuu sepertinya mengasumsikan terjadnya suatu kevakuman sosial di mana pengaruh lingkungna tidak perlu di persoalkan. 

Manusia , menurut John W. Riley dan Mathilda W. Riley, sebagai Homo Comunicas sebenarnya merupakan bagian dari suatu lingkungan atau system dengan struktur yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pengamatan terhdap tinggkah laku komunikasi manusia perlu dipandang secara sosiologis.

Riley dan Riley mengatakan bahwa komunikan dalam menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator tidak lansung bereaksi begitu saja. Ada faktor-faktor di luar dirinya yang turut mempengaruhi dan bahkan mengendalikan aksi dan reaksinya terhadap suatu pesan yang diterimanya. Faktor-faktor yang dimaksud terutama berkaitan dengan pesan dari kelompok primer (misalnya keluarga) dan kelompok lainya yang menjadi rujukan (referensi) dari si komunikasi. Nilai-nilai yang berlaku pada kelompok primer dan kelompok rujukan inilah yang lazimnya mempengaruhi komunikan dalam menentukan sikap dan tindakannya. Hal ini terjadi karena umumnya orang akan selalu berusaha agar sikap dan tinakannya tidak terlalu menyimpang dari nilai-nilai kelompok di lingkungannya.

Model Newcomb
Model komunikasi yang dikebangkan Newcomb merupakan model komunikasi antar pribadi. Melalui modelnya ini Newcomb menggambarkan tentang dinamika hubungan komunikasi antara dua indiwidu tentang suatu objek yang dipersoalkan mereka. 

Model dari Newcomb ini dikenal dengan sebutan model keseimbangan. Pola komunikasi yang terjadi antara dua individu mempunyai dua bentuk atau situasi yaitu: seimbang dan tiak seimbang. Situasi komunikasi seimbang akan terjadi apabila dua orang yang berkomunikasi tentang suatu hal/objek yang sama-sama mempunyai sikap menyukai atau selera yang sama terhadap hal/objek yang dibicarakan. Keadaan tidak seimbang terjadi apabila terdapat perbedaan sikap di antara kedua orang yang saling berkomunikasi. Namun, apabila keadaan tidak seimbang ini terjadi, ummnya masing-masing pihak berupaya untuk mengurangi perbedaan sehingga keadaan relatif seimbang bisa dicapai. Sementara apabila keadaan seimbang terjadi, masing-masing pihak berusaha untuk terus memperahankannya. Menjaga keseimbangan inilah yang menurut Newcomb merupakan hakikat utama dari komuniasi antarpribadi.

Model Dasar Komunikasi

Model Dasar Komunikasi
MODEL LASSWELL
Harold D. Lasswell adalah ilmuwan politik yang juga tertarik mendalami komunikasi. Bidang studi yang ditekunnya terutama yang menyankut propaganda dan komuikasi politik. Menurut Lasswell persoalan komunikasi menyangkut 5 pertanyaan sederhana sebagai berikut: who (siapa) > says what (mengatakan apa) > in which channel? (melalui saluran apa) > to whom? (kepada siapa) > with what effect? (dengan akibat apa). 

Model komunikasi klasik dari Lasswell menunjukkan bahwa pihak pengirim pesan (komunikator) pasti mempunyai suatu keinginan untuk mempengaruhi pihak penerima (komunikan), karenanya komunikasi harus dipandang sebagai upaya persuasi. Setiap upaya penyampaian pesan dianggap akan menghasilkan akibat baik positif ataupun negative. Dan hal ini, menurut Lasswell banyak ditentukan oleh bentuk dan cara penympaian. Salah satu kelemahan dari model Lasswell ini adalah tidak digambarkannya unsur feedback (umpan balik). Sehingga proses komunikasi yang dijelaskan bersifat searah.


Model Komunikasi Barnlund 
Dean C. Barnlund adalah seorang ahli komunikasi Amerika Serikat membuat dua mdel komunikasi yaitu: model komunikasi intrapersonal (intra-pribadi) dan model komunikasi antar pribadi. Gambaran kedua model tersebut adalah sebagai berikut. 

Model Komunikasi Intra-Pribadi 
Pengertian komunikasi di sini menunjuk pada proses pengolahan dan pembentukan informasi melalui sistem syaraf dan otak manusia sehubungan dengan adanya stimulus yang ditangkap melalui pancaindera. Proses berpikir (merencana dan memahami symbol), serta melakukan reaksi yang terjadi dalam diri manusia. 

Gambar model tersebut menjeaskan bahwa pada dasarnya tingkah laku nonverbal seseorang apakan bervalensi positif, netral atau negative, dipengaruhi oleh isyarat-isyarat pribadi dan publik yang dialami atau sampai kepada dirinya. Rasa gembira karena baru mendapat kiriman uang adalah contoh isyarat pribadi yang bervalensi positif (Cpr+). Ruang kuliah yang bersih dan rapi adalah contoh isyarat public yang bervalensi positif (Cpu+). Apabila contoh-contoh tersebut dialami mahasiswa yang akan kuliah, makan begitu masuk dan duduk di ruang kuliah kemungkinan ia akan tampak ceria atau bersiul kecil pertanda senang (Cbehnv+). 

Dalam kenyataan, seseorang tentu saja akan mmengalami berbagai isyarat (baik, pribadi, ataupun publik ) yang bervalensi postif, negatif, netral. Menurut model ini, semua isyarat ini setelah di-decode, atau embentuk (encode) suatu isyarat tingkah laku nonverbal tertentu (positif, netral atau negative)


Model Komunikasi Antar-pribadi 
Proses komunikasi antar-pribadi pada dasarnya merupakan kelanjutan dari proses komunikasi intra-pribadi sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Unsur tambahan di dalam proses komunikasi adalah pesan (M) dan isyarat prilaku verbal (Cbeh-v). Dengan demikian pola dan bentuk komunikasi yang terjadi antara dua orang dipengaruhi oleh hasil proses komunikasi intrapribadi yang terjadi dalam dirinya masing-masing.
M : message (pesan)
Cbeh – v : Verbal Behavioral Cues (isyarat tingkah lak verbal)

Pengertian dan Fungsi Model

Pengertian dan Fungsi Model
Apa yang dimaksud dengan model ? apakah model sama atau berbeda dengan teori? Dalam buku buku dan jurnal- jurnal komunikasi, masih banyak ditemui keracun tentang penggunaan konsep teori dan model. Akibatnya pembaca menjadi sulit untuk membedakan yang mana yang disebut teori dan yang mana disebut sebagai model. Bahkan tidak jarang ditemui teori X disebut sebagai teori x atau sebaliknya. Meskipun penjelasan dan batasan tentang kedua konsep tersebut masih merupakan sesuatu yang dapat doperdebatkan, untutk keperluan buku ini uraian tentang teori dan model yang diberikan oleh liitlejohn (1983) dan hawes (1975) akan dijadikan sebagai patokan.

Model adalah pola (contoh, acuan, ragam) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan. Definisi lain dari model adalah abstraksi dari sistem sebenarnya, dalam gambaran yang lebih sederhana serta mempunyai tingkat prosentase yang bersifat menyeluruh, atau model adalah abstraksi dari realitas dengan hanya memusatkan perhatian pada beberapa sifat dari kehidupan sebenarnya. Sedangkan yang dimaksud dari model komunikasi adalah pola yang digunakan dalam proses komunikasi. 

Menurut Littlejhon (1983:12) In a broad a sense the term model can apply to any symbolic representation of a thing, process, or idea (dalam pengertian luas, pengertian model menunjuk pada setiap representasi simbolis dari suatu benda proses gagasan/ide). Pada level konseptual model mempresentasikan ide-ide dan proses. Dengan demikian model bisa berbentuk gambar-gambar grafis, verbal atau matematikal. Biasanya model dipandang sebagai analogi dari beberapa fenomena. Perbedaan antara teori dan model menurut Littlejohn dan Hawes (1983) adalah: Teori merupanakan penjelasan (explanation), sedangkan model hanya merupakan representasi (representation). Dengan demikian model komunikasi dapat diartikan sebagai representasi dari suatu peristiwa komunikasi. Akan tetapi, model tidak berisikan penjelasan mengenai hubungan dan interaksi antara factor-faktor atau unsur-unsur yang menjadi bagian dari model. Penjelasan diberikan oleh teori. Ini berarti terdapat kaitan antara teori dan model

Menurut Sereno dan Mortensen, suatu model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Suatu model merepresentasikan secara abstrak ciri-ciri penting dan menghilangkan rincian komunikasi yang tidak perlu dalam “dunia nyata”. 

Aubrey Fisher mengatakan, model adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari fenomena yang dijadikan model. 

Werner J. Severin dan James W. Tankard, Jr. mengatakan bahwa model membantu merumuskan suatu teori dan menyarankan hubungan. Oleh karena hubungan antara model dengan teori begitu erat, model sering dicampuradukkan dengan teori.

Gordon Wiseman dan Larry Barker, mengemukakan bahwa model kamunikasi mempunyai tiga fungsi yaitu :
1. Melukiskan proses komunikasi,
2. Menunjukkan hubungan visual,
3. Membantu dalam menemukan dan memperbaiki kemacetan komunikasi.

Deutsch menyebutkan bahwa model itu mempunyai empat fungsi :

1. Fungsi pengorganisasian 
Artinya model membantu kita mengorganisasikan suatu hal dengan cara mengurut-urutkan serta mengaitkan satu bagian system dengan bagian/system lainnya sehingga kita memperoleh gambaran yang menyeluruh, tidak sepotong-sepotong.

2. Fungsi heuristik. 
Artinya, melalui model, kita akan dapat mengetahui sesuatu hal secara keseluruhan. Karena, model membantu kita denganemberikan gambaran tentang komponen-komponen pokok dari sebuah proses atau system.

3. Fungsi penjelasan 
Model membantu kita dalam menjelaskan tentang suatu hal melalui penyajian informasi yang sederhana. Tanpa model, informasi tentang suatu hal akan tampak rumit atau tidak jelas.

4. Fungsi prediksi 
Melalui model, kita dapat memperkirakan tentang hasil atau akibat yang akan dapat dicapai. Oleh karena itu, dalam dunia ilmiah model ini sangat penting, karena dapat digunakan sebagai dasar bagi para peneliti dalam merumuskan hipotesis, yakni pertanyan-pertanyaan yang berisikan penjelasan mengenai kemungkinan adanya hubungan sebab-akibat antara satu factor dengan faktor lainnya.

Komunikasi adalah suatu proses yang dinamis dan melibatkan banyak unsusr atau faktor. Kaitan antara atu/faktor dengan unsur/faktor lainnya dan bersifat struktural atau fungsional. Dengan demikian, model – model komunikasi juga memberikan gambaran kepada kita tentang struktur dan hubugan fungsional dari unsur – unsur / faktor – faktor yang ada di dalam sistem. Pengertian struktur meruju pada tatanan kedudukan dan garis hubungan antara satu/ faktor- faktor lainnya yang ada di dalam sebuah sistem. Pengertian fungsional menunjuk pda tugas dan peran dari setiap unsur/faktor dalam sebuah sistem. Oleh karena itu, melalui model, kita akan dapat memahami secara mudah dan komprehensif mengenai struktur dan fungsi dari unsur – unsur/ faktor- faktor yang terlibat dalam prose komunikasi, aik dalam konteks individual, di antara dua oarnag atau lebih, kelompok/ organisasi,baik dalam konteks komunikasi dengan masyarakat secara luas. 

Menurut McQuail dan seven Windahl (1981) dalam buku merekan telah mengintarisasikan dan menjelaskan 28 buah model komunikasi. Kedua puluh delapan model komunikasi ni menurut McQuail dan windahl dapat dibagi dalam lima kelompok. Kelompok pertama, disebut sebagai mdel – model dasar . keompok kdua menyangkut penaruh personal, penyebaran dan dampak komunikasi massa terhadap perseorangan. Kelompk yang ketiga meliputi model – model tentang efek komunikasi massa terhadap kebudayaan dan masyarakat. Kelompok yang keempat berisikan model – model yang memusatkan perhatian pada khalayak. Kelompok kelia mencakup model –model komunikasi tentang sistem, produksi, seleksi dan alur media massa .

Manusia dalam Perspektif Psikologi

Manusia dalam Perspektif Psikologi 
Dalam literatur psikologi pada umumnya para ahli ilmu ini berpendapat bahwa penentu perilaku utama manusia dan corak kepribadian adalah keadaan jasmani, kualitas kejiwaan, dan situasi lingkungan. Determinan tri dimensional ini (organo biologi, psikoedukasi, dan sosiokultural) merupakan determinan yang banyak dianut oleh ahli psikologi dan psikiatri. Dalam hal ini unsur ruhani sama sekali tidak masuk hitungan karena dianggap termasuk penghayatan subjektif semata-mata.

Selain itu psikologi apapun alirannya menunjukkan bahwa filsafat yang mendasarinya bercorak antroposentrisme yang menempatkan manusia sebagai pusat segala pengalaman dan relasi-relasinya serta penentu utama segala peristiwa yang menyangkut masalah manusia. Pandangan ini mengangkat derajat manusia teramat tinggi ia seakan-akan memiliki kausa prima yang unik, pemilik akal budi yang sangat hebat, serta memiliki kebebasan penuh untuk berbuat apa yang dianggap baik dan sesuai baginya.

Sampai dengan penghujung abad ini terdapat empat aliran besar psikologi, yakni : Psikoanalisis, psikologi Perilaku, Psikologi Humasnistik, Psikologi Transpersonal. Masing-masing aliran meninjau manusia dari sudut pandang yang berlainan, dan dengan metodologi tertentu berhasil menentukan berbagai dimensi dan asas tentang kehidupan manusia, kemudian membangun teori dan filsafat mengenai manusia.

Psikoanalisis
Pendiri psikoanalisis adalah Sigmund Freud (1856-1839), seorang neurolog berasal dari Austria, keturunan Yahudi. Teori yang dikembangkan pengalaman menangani pasien, freud menenmukan ragam dimensi dan prinsip-prinsip mengenai manusia yang kemudian menyusun teori psikologi yang sangat mendasar, majemuk, dan luas implikasinya dilingkungan ilmu sosial, humaniora, filsafat, dan agama.

Menurut freud kepribadian manusia terdiri dari 3 sistem yaitu id (dorongan biologis), Ego (kesadaran terhadap realitas kehidupan), dan Superego (kesadaran normatif) yang berinteraksi satu sama lain. Id merupakan potensi yang terbawa sejak lahir yang berorientasi pada kenikmatan (pleasure principle), menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan, dan menuntut kenikmatan untuk segera dipenuhi. Ego berusaha memenuhi keinginan dari id berdasarkan kenyataan yang ada (Reality principle). Sedangkan superego menuntut adanya kesempurnaan dalam diri dan tuntutan yang bersifat idealitas.

Dalam diri manusia ada 3 tingkatan kesadaran yaitu alam sadar, alam tidak sadar, dan alam prasadar. Alam kesadaran manusia digambarkan freud sebagai sebuah gunung es dimana puncaknya yang kecil muncul kepermukaan dianggap sebagai alam sadar manusia sedangkan yang tidak muncul ke permukaan merupakan alam ketidaksadaran yang luas dan sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Dan diantara alam sadar dan alam ketidaksadaran terdapat alam prasadar. Dengan metode asosisi bebas, hipnotis, analisis mimpi, salah ucap, dan tes proyeksi hal-hal yang terdapat dalam alam prasadar dapat muncul ke alam sadar.

Psikologi Perilaku (behavior)
Aliran ini berpendapat bahwa perilaku manusia sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan luar dan rekayasa atau kondisioning terhadap manusia tersebut. Aliran ini mengangap bahwa manusia adalah netral, baik atau buruk dari perilakunya ditentukan oleh situasi dan perlakuan yang dialami oleh manusia tersebut. Pendapat ini merupakan hasil dari eksperimen yang dilakukan oleh sejumlah penelitian tentang perilaku binatang yang sebelumnya dikondisikan.

Aliran perilaku ini memberikan kontribusi penting dengan ditemukannya asas-asas perubahan perilaku yang banyak digunakan dalam bidang pendidikan, psikoterapi terutama dalam metode modifikasi perilaku. Asas-asas dalam teori perilaku terangkum dalam hukum penguatan atau law of enforcement, yakni :

a. Classical Condtioning
Suatu rangsang akan menimbulkan pola reaksi tertentu apabila rangsang tersebut sering diberikan bersamaan dengan rangsang lain yang secara alamiah menimbulkan pola reaksi tersebut. Misalnya bel yang selalu dibunyikan mendahului pemberian makan seekor anjing lama kelamaan akan menimbulkan air liur pada anjing itu sekalipun tidak diberikan makanan. Hal ini terjadi karena adanya asosiasi antara kedua rangsang tersebut.

b. Law of Effect
Perilaku yang menimulkan akibat-akibat yang memuaskan akan cenderung diulang, sebaliknya bila akibat-akiat yang menyakitkan akan cenderung dihentikan.

c. Operant Conditioning
Suatu pola perilaku akan menjadi mantap apabila dengan perilaku tersebut berhasil diperoleh hal-hal yang dinginkan oleh pelaku (penguat positif), atau mengakibatkan hilangnya hal-hal yang diinginkan (penguat negatif). Di lain pihak suatu pola perilaku tertentu akan menghilang apabila perilaku tersebut mengakibatkan hal-hal yang tak menyenangkan (hukuman), atau mangakibatkan hilangnya hal-hal yang menyenangkan si pelaku (penghapusan).

d. Modelling
Munculnya perubahan perilaku terjadi karena proses dan penaladanan terhadap perilaku orang lain yang disenangi (model)

Keempat asas perubahan perilaku tersebut berkaitan dengan proses belajar yaitu berubahnya perilaku tertentu menjadi perilaku baru

Psikologi Humanistik
Berlainan dengan psikoanalisis yang memandang buruk manusia dan behavior yang memandang manusia netral, psikologi humanistik berasumsi bahwa pada dasarnya manusia memiliki potensi-potensi yang baik, minimal lebih banyak baiknya dari pada buruknya. Aliran ini memfokuskan telaah kualitas-kualitas insani. Yakni kemampuan khusus manusia yang ada pada manusia, seperti kemampuan abstraksi, aktualisasi diri, makna hidup, pengembangan diri, dan rasa estetika. Kualitas ini khas dan tidak dimiliki oleh makhluk lain. Aliran ini juga memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki otoritas atas kehidupannya sendiri. Asusmsi ini meunjukkan bahwa manusia makhluk yang sadar dan mandiri, pelaku yang aktif yang dapat menentukan hampir segalanya.

Salah satu kelompok aliran ini adalah logoterapi yang dikembangkan oleh Viktor Frankl. Logoterapi mengatakan bahwa manusia terdiri dari 2 komponen dasar yaitu dimensi raga (somatis), dan dimensi kejiwaan (psikis) atau dimensi neotic atau sering disebut dengan dimensi keruhanian (spiritual). Menurut Frankl bahwa arti keruhanian ini tidak mengacu pada agama tetapi dimensi ini dianggap inti kemanusiaan dan merupakan sumber dari makna hidup, serta potensi dari berbagai kemampuan dan sifat luhur manusia yang luar biasa yang selama ini terabaikan oleh telaah psikologi sebelumnya. Logoterapi mengajarkan bahwa manusia harus dipandang sebagai satu kesatuan dari raga-jiwa-ruhani.

Manusia memiliki hasrat untuk mencari makna hidup, bila seseorang berhasil menemukan makna hidupnya maka hidupnya akan bahagia demikian sebaliknya bila tidak menemukannya maka hidupnya akan hampa. Dan menurut frankl kehilangan makna hidup ini banyak diaami oleh orang-orang yang hidup dalam dunia modern saat ini.

Psikologi Transpersonal
Aliran ini dikembangkan oleh tokoh dari psikologi hmanistik antara lain : Abraham Maslow, Antony Sutich, dan Charles Tart. Sehingga boleh dikatakan bahwa aliran ini merupakan perkembangan dari aliran humanistik. Sebuah definisi yang dikemukakan oleh Shapiro yang merupakan gaubungan dari berbagai pendapat tentang psikologi transpersonal : psikologi transpersonal mengkaji tentang potensi tertinggi yang dimiliki manusia, dan melakukan penggalian, pemahaman, perwujudan dari kesatuan, spiritualitas, serta kesadaran transendensi.

Rumusan di atas menunjukkan dua unsur penting yang menjadi telaah psikologi transpersonal yaitu potensi-potensi yang luhur (potensi tertinggi) dan fenomena kesadaran manusia. The altered states of consciousness adalah pengalaman seorang melewati kesadaran biasa misalnya pengalaman memasuki dimensi kebatinan, keatuan mistik, komunikasi batiniah, pengalaman meditasi. Demikian pula dengan potensi luhur manusia menghasilkan telaah seperti extra sensory perception,transendensi diri, ectasy , dimensi di atas keadaran, pengalalman puncak, daya batin dll.

Psikologi transpersonal seperti halnya psikologi humanistik menaruh perhatian pada dimensi spiritual msnusia yang ternyata mengandung potensi dan kemampuan luar biasa yang sejauh ini terabaikan dari telaah psikologi kontemporer. Perbedaannya dengan psikologi humanistik adalah bila psikologi humanistik menggali potensi manusia untuk peningkatan hubungan antar manusia, sedangkan transpersonal lebih tertarik untuk meneliti pengalaman subjektif-ransendental, serta pengalaman luar biasa dari potensi spiritual ini.

Kajian transpersonal ini menunjukkan bahwa aliran ini mencoba mengkaji secara ilmiah terhadap dimensi yang selama ini dianggap sebagai bidang mistis, kebatinan, yang dialami oleh kaum agamawan (kyai, pastur, bikhu) atau orang yang mengolah dunia batinnya. Hasil dari beberapa penelitian tranpersonal menunjukkan bahwa bidang kebatinan bisa menjadi bidang ilmu dan dapat dikaji secara ilmiah sehingga hal tersebut penting untuk di kaji lebih dalam dan tidak dianggap sebagai suatu bid’ah, khurafat, ataupun syirik yang akhirnya membelenggu ilmuwan psikologi untuk mempelajari potensi yang tertinggi ini.

Psikologi Kultural Dan Semiotik: Arti Yang Bertentangan Dalam Praktek Pendidikan

Psikologi Kultural Dan Semiotik: Arti Yang Bertentangan Dalam Praktek Pendidikan 
Publikasi dari rangkaian artikel khusus tentang budaya dan pendidikan ini mencapai tiga tujuan. Yang pertama adalah untuk melanjutkan pembahasan tenang dasar kultural yang penting dari pendidikan yang mulai dengan masalah khusus dari Canadian Journal of Education tentang pendidikan Aborigin (volume 19, nomor 2; Musim semi 2004). Yang ke dua adalah untuk menunjukkan bahwa prinsip-prinsip dari pembuatan arti yang ditampilkan dalam budaya-budaya Aboriginal adalah serupa dengan yang mendasari pendekatan-pendekatan utama untuk pendidikan. Tujuan yang ke tiga dari masalah khusus ini adalah untuk menjelaskan bagaimana perspektif dan agenda dari psikologi kultural didukung oleh semiotik, sebuah tradisi yang paralel dan melampaui dari pendidikan yang memiliki inti penyesuaian arti dan pembuatan arti. 

Dalam pendahuluan ini, saya membuat sketsa beberapa sejarah dan pernyataan utama dari psikologi kultural dan semiotik dan menyebutkan beberapa masalah penting yang muncul dari masing-masing dari keempat artikel yang mengikuti.

PSIKOLOGI KULTURAL
Meskipun ada antusiasme saat ini dari para peneliti dalam bidang pendidikan untuk topik-topik yang dipandang sebagai inti dari psikologi kultural, seperti konstruktivisme sosial, kognisi tersituasi (lihat Seely Brown, Collins, dan Duguid, 1990), dan kognisi tersebar (lihat Cole & Engestrom, 1993), subyek-subyek ini sekarang tidaklah baru. Dalam kenyataannya, studi tentang pembuatan arti dan dasarnya dalam pengalaman sosio kultural adalah sebuah tradisi tua bahkan dalam ilmu pengetahuan barat. Sebagai contoh, hampir 300-an tahun yang lalu, Giambattista Vico (1668-1744) menekankan dasar-dasar kultural historis dari mentalitas manusia dengan menjelaskan humanitas seseorang sebagai sebuah rakitan dari hubungan-hubungan sosial.

Selanjutnya, pada tahun 1851, Moritz Lazarus (1824-1903) menamai sebuah bidang baru untuk studi, Volkerpsychologie, yang dia interpretasikan sebagai studi fenomena mental kolektif. Beberapa tahun selanjutnya, pada tahun 1860, Lazarus dinamai sebagai untuk kursi pertama dari psikologi dimana saja, ketika dia menjadi profesor dari Volkerpsychologie di Bern (Jahoda, 2003). Ini hampir selalu menjadi sebuah generasi sebelum pendirian laboratorium psikologi pertama pada tahun 1879 oleh Wilhelm Wundt (1832-1920), yang juga memiliki minat berlangsung lama dan membuat kontribusi yang besar untuk bidang Volkerpsychologie. Hajim Steinthal (1823-2899) dan Wilhelm Dilthey (1833-1911) adalah sebagian dari kontributor penting untuk versi-versi dari psikologi ‘rakyat’ dari era yang sama ini (Jahoda, 2003).

Akar dari psikologi kultural yang ada saat ini dipandang paling jelas, bagaimanapun juga, dalam satu garis khusus dari ilmu pengetahuan: sekolah sosio historis Rusia tentang pemikiran yang diwakili awalnya oleh Aleksei Leontiev (1904-1979), Aleksandr Luria (1902-1977), dan khususnya Lev Vygotsky (1896-1934). Meskipun kematian awal Vygotsky karena tuberkulosis dan penghentian Stalinist untuk tulisan-tulisannya selama 20 tahun (Blanck, 2000), teori dan penelitiannya yang penuh pandangan telah bertahan lama untuk mempengaruhi penelitian pendidikan barat – khususnya selama 15 tahun terakhir.

Paling tidak tiga pernyataan utama menjadi inti dari rumusan-rumusan Vygotsky, 1978. Pertama, manusia berhubungan dengan dunia fisik dan berhubungan satu dengan yang lain oleh karena proses-proses mediasi kultural, mediasi yang dicapai menggunakan alat-alat atau tanda-tanda psikologi (sebagai contoh, musik dan bahasa) dan alat-alat teknis (Sebagai contoh, cangkul dan palu) dari budaya sekeliling. Ke dua, mediasi kultural dan oleh karena itu juga fungsi-fungsi psikologi manusia adalah fenomena historis yang mengalami perubahan terus menerus dan sepanjang kehidupannya. Ke tiga, fungsi-fungsi psikologi manusia muncul dari aktivitas praktek dalam konteks-konteks khusus. Sebuah tema yang mencakupnya melibatkan perhatian tentang kognisi sebagai sebuah fenomena kelompok, dan bukan individual, yang didistribusikan. Saat ini pernyataan-pernyataan ini diambil sebagai inti untuk psikologi dan diwakili dalam berbagai tingkat dalam masing-masing artikel dalam masalah khusus ini. 

SEMIOTIK
Sekitar tahun 1897, [Charles Sanders Peirce] (1839-1914), biasanya dianggap sebagai pendiri utama dari semiotik modern, menjelaskan semiotik sebagai “doktrin formal untuk tanda-tanda”. Saat ini, semiotik (kata jamak dianggap sebagai yang diperkenalkan oleh Margaret Mead pada tahun 1992) ditentukan sebagai doktrin, atau studi, atau ilmu pengetahuan tentang tanda-tanda. Lebih tidak formal, semiotik dapat dijelaskan sebagai studi akan semua sistem tanda (antara subyek-subyek yang berbeda seperti arsitektur, bahasa, tarian, dan gambaran-gambaran media) dan simbol-simbol (yang menjadi kasus khusus dari tanda-tanda) dan juga studi tentang bagaimana tanda-tanda digunakan dalam membuat arti dan pesan. Di Amerika Utara dan Eropa, bidang-bidang yang paling aktif dari penelitian semiotik saat ini mulai dengan pemikiran seminal Peirce. Oleh karena itu, perspektif Peircean dalam semiotik ditekankan dalam pendahuluan ini dan dalam artikel-artikel oleh Haas dan Rogers.

Definisi Peirce tentang tanda yang paling banyak dikutip mulai sebagia berikut: “Sebuah tanda adalah sesuatu yang berarti untuk seseorang untuk sesuatu dalam beberapa hal atau kapasitas”. Dalam definisi lengkapnya (lihat Siegel, masalah tentang Canadian Journal of Education, untuk pembahasan yang lebih lengkap), Peirce memperkenalkan tiga rangkaian (triad) tanda yang tidak dapat dikurangi yang tersusun dari obyek-tanda-interpretant (atau obyek-representamen-interpretant). Rumusan ini biasanya berlawanan dengan hubungan diadik dari Ferdinand de Saussure yang dikabarkan untuk semiologi dan dipakai untuk linguistik (de Saussure, 1959). Bagaimanapun juga, tiga rangkaian tanda Peirce dipandang sebagai yang lebih memiliki kekuatan penjelas dalam pembuatan arti paling tidak untuk dua alasan: (a) ketika dibandingkan dengan diad, triad menawarkan ekspansi yang besr dalam dasar dan lingkup dari hubungan-hubungan yang dapat diperoleh dari mereka, dan (b) triad tanda Peirce dapat dipakai bukan hanya untuk bahasa tapi untuk tanda-tanda dalam setiap modalitas manusia (sebagai contoh, musik, gambar, dan tari) dan penciptaan kultural (sebagai contoh, agama, arsitektur, dan gambar-gambar media).

Dari perspektif semiotik, baik alat-alat psikologis maupun teknis [Vygotsky] yang disebutkan dianggap sebagai tanda-tanda. Sebagai tambahan, pernyataan Vygotsky bahwa mediasi kultural dan pemungsian psikologi manusia adalah fenomena historis yang berubah-ubah yang seluruhnya konsisten dengan pandangan semiotik bahwa tanda-tanda yang berevolusi (yaitu arti) mengalami perubahan dan perkembangan terus menerus, atau semiosis, dalam konteks lingkungan-lingkungan sosiokultural. Pernyataan Vygotskian ke tiga, bahwa fungsi-fungsi psikologi manusia muncul dari aktivitas praktek dalam konteks-konteks tertentu, juga didukung oleh dasar filosofis dari semiotik, pragmatisme. Peirce, yang disebut oleh William James sebagai pendiri pragmatisme pada akhir tahun 1800-an, mengijinkan elemen-elemen pragmatik untuk memandu banyak dari pengambilan teori yang dia lakukan tentang dasar dari semiosis yang merupakan evolusi yang dinamis dari tanda-tanda atau proses-proses dimana tanda-tanda menjadi berarti. Dalam dicatat bahwa pragmatisme mendasari pekerjaan dari John Dewey, sekali seorang siswa dari Peirce di Johns Hopkins University, dan Jerome Bruner, yang berhubungan dengan kebangkitan kembali akhir-akhir ini dari psikologi kultural. 

Asumsi psikologi kultural bahwa kognisi adalah sebuah fenomena yang ddistribusikan dan bukan fenomena individual konsisten dengan prinsip-prinsip dari semiotik Peirce, seperti yang dapat dilihat dari kutipan-kutipan berikut ini dari tulisan-tulisan Peirce: “orang pada intinya adalah seekor binatang sosial” (hal. 3); “masalah yang ada menjadi bagaimana untuk memperbaiki kepercayaan, bukan hanya dalam bidang individual, tapi dalam komunitas” (hal. 13); “konsepsi ini [tentang realita] pada intinya melibatkan hal tentang sebuah KOMUNITAS [huruf besar seperti aslinya], tanpa batas-batas yang pasti, dan mampu memberikan peningkatan yang pasti untuk ilmu pengetahuan” (hal 247); “realita tergantung pada keputusan akhir dari komunitas” (hal. 250); dan “perkembangan pemikiran dengan memandang pada kelanjutan pikiran, dapat mempengaruhi seluruh orang atau komunitas dalam personalitas kolektifnya” (hal. 367). Maka, bagi Peirce, semiosis adalah sebuah proses sosial kolektif dan individual dan tanda-tanda didasarkan pada budaya-budaya. 

Selama sejarah saat ini tentang semiotik, kontributor utama seperti Thomas Sebeok dan Umberto Eco belum memiliki ketertarikan utama dalam teori dan praktek dari pendidikan. Dalam beberapa tahun terakhir, bagaimanapun juga, semakin banyak peneliti telah berusaha untuk menerapkan perspektif semiotik pada dilema-dilema dan kesempatan-kesempatan pendidikan yang terjadi (sebagai contoh, Cunningham, 1992; Lemke, 1990; Smith, 1992). Saya percaya bahwa semiotik, bersama dengan asumsi-asumsi dan bidang psikologi kultural, dapat mengijinkan penelitian kembali dalam hal vital dari beberapa masalah utama dalam pendidikan. Artikel-artikel dalam masalah khusus ini terdiri dari sebuah langkah penting dalam arah ini.

ARTI DALAM PRAKTEK PENDIDIKAN: MENINJAU ARTIKEL
Ø Arti dalam sebuah Pendekatan yang Berdasarkan Budaya untuk Perkembangan Anak
Dalam artikelnya, Judith Bernhard menampilkan posisi-posisi teoritis yang dibagi-bagi yang telah menahan penelitian dan praktek sirkular di Amerika Utara pada pendidikan awal masa kanak-kanak selama abad ke-20. Bernhard menjelaskan empat cara utama dalam pencapaian perkembangan manusia: (a) sebagai defisit, (b) sebagai kerugian atau perampasan, (c) sebagai perbedaan non inti, dan (d) sebagai heterogenitas mendasar. Untuk masing-masing pendekatan, dia menyebutkan asumsi-asumsi utama, kekurangan-kekurangan yang memungkinkan, dan implikasi-implikasi sirkular. Mendukung sebuah pandangan psikologi kultural dari perkembangan anak, Bernhard mengesahkan pendekatan ke empat.

Salah satu tujuan inti Bernhard adalah untuk menanyakan tentang keberadaan dari karakteristik manusia yang universal yang abstrak dan konteksnya bebas. Dia percaya bahwa tidak terdapat legitimasi untuk ekspresi-ekspresi umum seperti anak yang ‘berusia dua tahun’. Bagaimanapun juga, pembaca dapat salah menginterpretasikan penjelasannya tentang dasar dari ‘heterogenitas mendasar’, sebuah istilah yang mengacu pada perbedaan-perbedaan mendasar yang diciptakan ketika fungsi manusia dalam bidang kultural yang berbeda dan bukan pada perbedaan-perbedaan mendasar dalam potensi manusia untuk terpengaruh oleh pengaruh-pengaruh sosiokultural. Untuk menyatakan kembali, manusia sebagai produk budaya dapat berbeda antara satu dengan yang lain, tapi kemampuan awal untuk memakai logika dan menggunakan alat-alat kultural, atau tanda-tanda, tidak berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Bernhard meminta kepada kita untuk meneliti kembali ikatan-ikatan dari universalitas dalam konsepsi-konsepsi kita tentang perkembangan anak dan untuk mengambil secara serius asumsi-asumsi operasional dari psikologi kultural.

Ø Arti-arti dalam sebuah Program Intervensi untuk Kaum Muda yang Beresiko
Dalam artikel ini, Donald Campbell menjelaskan program BreakAway Company untuk orang dewasa yang beresiko sebagai salah satu yang berdasar pada aktivitas kultural dan menghadapi tantangan yang umum tentang mewakili kemajuan siswa secara memuaskan. Bukannya mengambil rute yang diterima dari penghilangan ketidak sesuaian pengukuran yang disusun sebagai kesalahan statistik saja, bagaimanapun juga, Campbell menempatkan prinsip pada perbedaan-perbedaan ini dan pada arti-arti yang diberikan oleh para partisipan program untuk dilema-dilema kontekstual yang disusun. Analisis yang dihasilkannya memunculkan pertanyaan-pertanyaan penting tentang validitas dari penggunaan alat-alat penilaian berdasarkan pada orang-orang yang terisolasi yang ditempatkan dalam situasi-situasi abstrak dan bukan pada partisipan yang bekerjasama dan berkomunikasi yang berbagi usaha sosial.

Perspektif Campbell dibagikan oleh penleiti dari Spanyol yang menunjukkan bahwa
Pola-pola motivasional adaptif dipelajari dengan lebih baik dalam sebuah konteks pekerjaan kerjasama daripada dalam seseorang [dan bahwa model-model penilaian harus terpusat lebih pada proses daripada produk, dengan lebih banyak referensi pada kriteria daripada norma, yang lebih terfokus pada aspek kualitatif daripda kuantitatif. (Rosa & Montero, 2000, hal. 80-81)

Seperti yang disampaikan oleh Rosa dan Montero (2000) di lain tmepat dalam bab mereka, Vygotsky mengantisipasi poin-poin ini. Hal yang sama, Campbell menjelaskan temuan-temuannya dengan mengacu pada konsep-konsep yang disahkan oleh psikologi kultural dan semiotik. Sebagai contoh, dia mengutip sumber-sumber yang memandang pembelajaran sebagai praktek sosial yang muncul dalam konteks dan yang melihat arti sebagai aktivitas yang dinamis dalam tindakan. Campbell juga menekankan peran dari naratif, seperti yang dipahami dalam lingkup luas (Bruner, 2000), dalam proses pembuatan arti (yaitu, dalam semiosis). Ada sedikit keraguan bahwa naratif, sebuah alat kultural utama, adalah sebuah media utama yang dilalui oleh manusia untuk menyusun arti. Namun, untuk banyak pendidik, pesan utama dalam pekerjaan Campbell telah diterapkan: ada batasan-batasan untuk nilai dari penggunaan tes-tes obyektif khusus dengan orang-orang yang berfungsi dalam situasi-situasi sosial yang berarti.

Ø Generasi dari Banyak Arti dalam Pembelajaran
Artikel Marjorie Siegel berakar kuat dalam semiotik Peircean. Pekerjaan yang dia lakukan meneliti arti dan keuntungan-keuntungan pendidikan dari pembangunan arti-arti analog alam sistem tanda-tanda yang berbeda dari sistem-sistem tanda yang digunakan untuk memberikan pesan-pesan asli yang telah dispesifikan sebelumnya. Siegel dengan ermat menggambarkan transmediasi, proses generatif dari penterjemahan arti dari satu sistem tanda ke sistem tanda lainnya (sebagai contoh, dari bahasa ke gambar), setelah dia telah menyimpulkan beberapa asumsi kunci dari Peirce yang mendukung proses terjemahan ini. Dengan adanya jumlah dan kerumitan dari rumus-rumus keterkaitan Peirce dan kekurangan yang dihasilkan untuk akses untuk sebagian besar pendidik, artikel Siegel baik untuk dibaca untuk kesimpulannya saja.

Di seluruh presentasi yang ditampilkannya, Siegel menekankan bahwa pembelajaran adalah sebuah proses sosial dimana para siswa secara aktif menyusun pemahaman mereka. Lebih lanjut, dia menggarisbawahi hubungan dengan transmediasi dengan mediasi kultural dan konvensi-konvensi kultural. Kedua poin ini adalah bukti dalam contoh-contoh yang diberikannya dari penelitiannya. Juga, saat menghubungkan metafora dan transmediasi, dia menunjukkan perhatian yang dapat disesuaikan yang mungkin dilewatkan oleh transmediasi, salah dimengerti, atau salah diinterpretasikan kecuali ada kehati-hatian untuk membuat konsep ini dapat diakses bagi para pendidik yang ada dalam posisi untuk mengambil keuntungan dari kekuatan yang ada padanya. Bagi mereka yang ada dalam psikologi kultural dan semiotik, pekerjaan Siegel memunculkan pertanyaan tentang apa yang umum dan apa yang unik ketika arti-arti yang sama disusun dalam sistem-sistem tanda yang berbeda. 

Ø Arti sebagai sebuah fungsi sejarah personal dan komunitas kultural
Dalam artikel terakhir dari masalah khusus ini, Nancy Haas dan Linda Rogers menyediakan sebuah perhatian tentang perseteruan budaya-budaya yang berdasar kuat pada semiotik yang terjadi ketika Tim bergerak dari rumahnya ke sekolahnya. Dalam budaya sekolah, guru menyamakan kemampuan komunikatif Tim dengan kinerja pada tes-tes standar dan pada tampilan-tampilan khusus dari kompetensi linguistik. Di budaya rumah, orang tua Tim telah membuat ukuran-ukuran alternatif dari kompetensi komunikatif, ukuran-ukuran yang tidak akan diterima oleh guru. Maka, sistem tanda fungsional Tim untuk rumah adalah tidak efektif dan memiliki nilai yang rendah di sekolah dan dia dimasukan dalam budaya ketidak mampuan.

Sebuah hal utama dari artikel Haas dan Roger adalah penggambarannya yang tajam tentang bagaimana tanda-tanda yang berevolusi hanya berfungsi dalam tatanan-tatanan tertentu dan komunitas-komunitas kultural tertentu. Kasus Tim menyediakan dukungan yang jelas untuk salah satu dari klaim penting Peire: bahwa tanda-tanda dapat berfungsi sebagai tanda-tanda hanya ketika tanda-tanda ini dipahami sebagai tanda-tanda. Yaitu, sebuah awan kumulus adalah sebuah tanda dari cuaca yang baik hanya bagi mereka yang memahami bahwa sebuah awal kumulus berarti ini. Pola komunikasi Tim yang berevolusi dengan hati-hati adalah berarti hanya bagi para anggota dari sebuah komunitas yang sangat terbatas. Seperti yang disebutkan oleh Haas dan Rogers, akibat-akibat untuk Tim adalah besr. Analisis mereka menggarisbawahi beberapa pernyataan utama dari psikologi kultural saat tergantung pada sebuah penjelasan yang diperoleh dari semiotik Peircean. Kasus Tim akan menggambarkan bagaimana kedua topik yang terkait ini, psikologi kultural dan semiotik, dapat bergabung untuk memberitahu dan mengarahkan praktek pendidikan.

Aplikasi Filsafat Dalam Ilmu Komunikasi

Aplikasi Filsafat Dalam Ilmu Komunikasi 
Di Indonesia berdasarkan survey Ac Nielsen di tahun 1999 bahwa 61% sampai 91% masyarakat Indonesia suka menonton televisi, hasil ini lebih lanjut dijelaskan bahwa “hampir 8 dari 10 orang dewasa di kota-kota besar menonton televisi setiap hari dari 4 dari 10 orang mendengarkan radio” ( Media Indonesia, 16- Nopember 1999). Hal ini menunjukkan bahwa menonton televisi merupakan “aktivitas” utama masyarakat yang seakan tak bisa ditinggalkan. Realitas ini sebuah bukti bahwa televisi mempunyai kekuatan menghipnotis pemirsa, sehingga seolah-olah televisi telah mengalienasi seseorang dalam agenda settingnya.

Perkembangan pertelevisian di Indonesia dua tahun terakhir ini memang amat menarik, televisi-televisi swasta bermunculan melengkapi dan memperkaya TV yang sudah ada. Tercatat lebih dari 17 TV yang ada di Indonesia adalah TVRI, RCTI, SCTV, TPI, AN-TV, Indosiar, Trans-TV, Lativi, TV-7, TV Global, dan Metro TV ditambah TV-TV lokal seperti Bandung TV, STV, Padjadjaran TV dan sebagainya. Fenomena ini tentu saja menggembirakan karena idealnya masyarakat Indonesia memiliki banyak alternatif dalam memilih suguhan acara televisi.

Namun realitasnya, yang terjadi adalah stasiun-stasiun TV di Indonesia terjebak pada selera pasar karena tema acara yang disajikan hampir semua saluran TV tidak lagi beragam tetapi seragam di mana informasi yang sampai kepada publik hanya itu-itu saja tidak menyediakan banyak alternatif pilihan. Beberapa format acara TV yang sukses di satu stasiun TV acapkali diikuti oleh TV-TV lainnya, hal ini terjadi hampir pada seluruh format acara TV baik itu berita kriminal dan bedah kasus, tayangan misteri, dangdut, film india, telenovela, serial drama Asia, Infotainment, dan lain-lain.

Media watch mencatat bahwa selama ini atas nama mekanisme pasar, pilihan format isi pertelevisian tak pernah lepas dari pertimbangan ”tuntunan khalayak” menurut perspektif pengelola. Berbagai program acara dibuat hanya untuk melayani kelompok budaya mayoritas yang potensial menguntungkan, sementara kelompok minoritas tersisihkan dari dunia simbolik televisi.

Ukuran televisi hanya dilihat berdasarkan rating tidak memperhatikan faktor fungsional, akibatnya ada kelompok masyarakat yang dapat menikmati berbagai stasiun TV karena berada di wilayah yang berpotensi, tapi ada masyarakat yang tak terlayani sama sekali atau menangkap acara televisi namun isinya secara kultural tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.

Keadaan ini sebelumnya terjadi juga pada negara adi kuasa seperti Amerika Serikat penelitian di negara ini menunjukkan bahwa surat kabar dan televisi mengarahkan sasaran liputan mereka terutama pada kelompok elite dan tak memperdulikan sebagian besar warga (Kovach, 2003:66) dalam pemenuhan fungsi informasi dan hiburan belakangan ini, TV-TV gencar menayangkan berita-berita yang disebut dengan infotainment. Kehadiran infotainment amat mewarnai program-program acara di televisi bahkan menempati posisi rating tertinggi yang berarti acara-acara model seperti ini amat digemari oleh masyarakat. Pengiklan pun tak urung berbondong-bondong memasang iklan pada setiap tayangannya tentu saja semakin mamacu pengelola media untuk berloma-lomba membuat heboh acara infotainment yang dikemasnya.

Dipelopori oleh tayangan kabar-kabari lima tahun silam di RCTI, saat ini tidak kurang dari 50 judul acara serupa muncul menyebar di semua stasiun TV termasuk TVRI bahkan Metro TV. Semua format yang tampil mengatasnamakan infotainment sebagai penggabungan dari kata ”Information’ dan Entertainment’ (Informasi dan Hiburan) wujudnya merupakan paket tayangan informasi yang dikemas dalam bentuk hiburan & informasi yang menghibur.

Jika kita cermati tampaknya tayangan-tayangan infotainment yang mengklaim sebagai sebuah produk jurnalisme seringkali berorientasi bukan pada efek yang timbul dalam masyarakat tetapi produk komersial tersebut apakah mampu terjual dan mempunyai nilai ekonomis atau tidak, sehingga tidak memperhatikan apa manfaatnya bagi pemirsa ketika menginformasikan adegan ”syur” Mayangsari – Bambang Soeharto, exploitasi kawin cerai para selebritis, konflik, gaya hidup, serta kebohongan publik yang kerap digembar-gemborkan oleh kalangan selebritis.

Fenomena ini menandakan satu permasalahan di dalam kehidupan nilai-nilai ”filosofis” televisi di Indonesia. Televisi Indonesia semakin hari semakin memperlihatkan kecenderungan mencampuradukan berita dan hiburan melalui format tayangan ”infotainment”. Kebergunaan berita menjadi berkurang bahkan menyimpang. Hal ini disebabkan di antaranya oleh tekanan pasar yang makin meningkat.

1. Kerangka Teoritis
Louis O. Katsoff dalam bukunya ”Elements of Philosophy” menyatakan bahwa kegiatan filsafat merupakan perenungan, yaitu suatu jenis pemikiran yang meliputi kegiatan meragukan segala sesuatu, mengajukan pertanyaan, menghubungkan gagasan yang satu dengan gagasan yang lainnya, menanyakan ”mengapa”’ mencari jawaban yang lebih baik ketimbang jawaban pada pandangan mata. Filsafat sebagai perenungan mengusahakan kejelasan, keutuhan, dan keadaan memadainya pengetahuan agar dapat diperoleh pemahaman. Tujuan filsafat adalah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan ini. Menemukan hakekatnya, dan menerbitkan serta mengatur semuanya itu dalam bentuk yang sistematik. Filsafat membawa kita kepada pemahaman & pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak. Tiga bidang kajian filsafat ilmu adalah epistemologis, ontologis, dan oksiologis. Ketiga bidang filsafat ini merupakan pilar utama bangunan filsafat.

Epistemologi: merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia yang bersangkutan dengan kriteria bagi penilaian terhadap kebenaran dan kepalsuan. Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh dalam prosesnya menggunakan metode ilmiah. Medode adalah tata cara dari suatu kegiatan berdasarkan perencanaan yang matang & mapan, sistematis & logis.

Ontologi: adalah cabang filsafat mengenai sifat (wujud) atau lebih sempit lagi sifat fenomena yang ingin kita ketahui. Dalam ilmu pengetahuan sosial ontologi terutama berkaitan dengan sifat interaksi sosial. Menurut Stephen Litle John, ontologi adalah mengerjakan terjadinya pengetahuan dari sebuah gagasan kita tentang realitas. Bagi ilmu sosial ontologi memiliki keluasan eksistensi kemanusiaan.

Aksiologis: adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan nilai seperti etika, estetika, atau agama. Litle John menyebutkan bahwa aksiologis, merupakan bidang kajian filosofis yang membahas value (nilai-nilai) Litle John mengistilahkan kajian menelusuri tiga asumsi dasar teori ini adalah dengan nama metatori. Metatori adalah bahan spesifik pelbagai teori seperti tentang apa yang diobservasi, bagaimana observasi dilakukan dan apa bentuk teorinya. ”Metatori adalah teori tentang teori” pelbagai kajian metatori yang berkembang sejak 1970 –an mengajukan berbagai metode dan teori, berdasarkan perkembangan paradigma sosial. Membahas hal-hal seperti bagaimana sebuah knowledge itu (epistemologi) berkembang. Sampai sejauh manakah eksistensinya (ontologi) perkembangannya dan bagaimanakah kegunaan nilai-nilainya (aksiologis) bagi kehidupan sosial. Pembahasan ; Berita infotainment dalam kajian filosofis. Kajian ini akan meneropong lingkup persoalan di dalam disiplin jurnalisme, sebagai sebuah bahasan dari keilmuan komunikasi, yang telah mengalami degradasi bias tertentu dari sisi epistemologis, ontologis bahkan aksiologisnya terutama dalam penyajian berita infotainment di televisi.

2. Kajian Aspek Epistemologis:
Dalam berita hal terpenting adalah fakta. Pada titik yang paling inti dalam setiap pesannya pelaporan jurnalisme mesti membawa muatan fakta. Setiap kepingan informasi mengimplikasikan realitas peristiwa kemasyatakatan. Tiap pesan menjadi netral dari kemungkinan buruk penafsiran subyektif yang tak berkaitan dengan kepentingan–kepentingan kebutuhan masyarakat. Charnley (1965 : 22.30) mengungkapkan kunci standardisasi bahasa penulisan yang memakai pendekatan ketepatan pelaporan faktualisasi peristiwa, yaitu akurat, seimbang, obyektif, jelas dan singkat serta mengandung waktu kekinian. Hal-hal ini merupakan tolok ukur dari ”The Quality of News” dan menjadi pedoman yang mengondisikan kerja wartawan di dalam mendekati peristiwa berita & membantu upaya tatkala mengumpulkan & mereportase berita. Secara epistemologis cara-cara memperoleh fakta ilmiah yang menjadi landasan filosofis sebuah berita infotainment yang akan ditampilkan berdasarkan perencanaan yang matang, mapan, sistematis & logis.

3. Kajian Aspek Ontologis
Dalam kajian berita infotainment ini bahasan secara ontologis tertuju pada keberadaan berita infotainment dalam ruang publik. Fenomena tentang berita infotainment bukan gejala baru di dunia jurnalisme. Pada abad 19, pernah berkembang jurnalisme yang berusaha mendapatkan audiensnya dengan mengandalkan berita kriminalitas yang sensasional, skandal seks, hal-hal, yang menegangkan dan pemujaan kaum selebritis ditandai dengan reputasi James Callender lewat pembeberan petualangan seks, para pendiri Amerika Serikat, Alexande Hamilton & Thomas Jeferson merupakan karya elaborasi antara fakta dan desus-desus. Tahun itu pula merupakan masa kejayaan William Rudolf Hearst dan Joseph Pulitzer yang dianggap sebagai dewa-dewa ”Jurnalisme kuning.”

Fenomena jurnalisme infotainment kembali mencuat ketika terjadi berita hebohnya perselingkuhan Presiden Amerika ”Bill Clinton- Lewinsky”. Sejak saat itu seakan telah menjadi karakteristik pada banyak jaringan TV di dunia. Di Indonesia, fenomena ini juga bukan terbilang baru. Sejak zaman Harmoko (Menteri Penerangan pada saat itu) banyak surat kabar–surat kabar kuning muncul & diwarnai dengan antusias masyarakat. Bahkan ketika Arswendo Atmowiloto menerbitkan Monitor semakin membuat semarak ”Jurnalisme kuning di Indonesia”. Pasca Orde Baru ketika kebebasan pers dibuka lebar-lebar semakin banyak media baru bermunculan, ada yang memiliki kualitas tetapi ada juga yang mengabaikan kualitas dengan mengandalkan sensasional, gosip, skandal dan lain-lain. Ketika tayangan Cek & Ricek dan Kabar Kabari berhasil di RCTI, TV lainnya juga ikut-ikut menayangkan acara gosip. Dari sinilah cikal bakal infotainment marak di TV kita. Fenomena infotainment merupakan hal yang tidak bisa terhindarkan dari dunia jurnalisme kita. Pada realitasnya ini banyak disukai oleh masyarakat dengan bukti rating tinggi (public share tinggi)

4. Kajian pada aspek aksiologis
Secara aksiologis kegunaan berita infotainment dititik beratkan kepada hiburan. Pengelola acara ini menarik audiens hanya dengan menyajikan tontonan yang enak dilihat sebagai sebuah strategi bisnis jurnalisme. Hal ini akan berdampak pada menundanya selera dan harapan sejumlah orang terhadap sesuatu yang lain. Ketika etika infotainment telah salah langkah mencoba untuk ”menyaingkan” antara berita & hiburan. Padahal nilai dan daya pikat berita itu berbeda, infotainment pada gilirannya akan membentuk audiens yang dangkal karena terbangun atas bentuk bukan substansi.

Pengelola media melalui berita infotainment terkadang tidak lagi mempertimbangkan moral sebagai pengontrol langkah mereka sehingga begitu mengabaikan kepentingan masyarakat.Hal itulah yang terjadi dengan berita infotainment di Indonesia, beberapa kaidah yang semestinya dijalankan malah diabaikan demi kepentingan mengejar rating dan meraup keuntungan dari pemasang iklan.

Benchmarking for information systems management using issues framework studies

Benchmarking for information systems management using issues framework studies 
Kamus bahasa Inggris Oxford mendefinisikan “isu” sebagai sesuatu yang sedang dibicarakan. Dalam beberapa tahun terakhir, isu telah menjadi bahan studi, dan penggunaan kerangka kerja untuk mengorganisir isu-isu tersebut menjadi sebuah struktur yang logis dan dapat dipahami telah menjadi populer di berbagai bidang dimana isu-isu tersebut dapat dianalisis. Di tempat-tempat di mana kerangka kerja dari isu tersebut dilakukan secara berkelanjutan dari waktu ke waktu, atau antar konteks yang berbeda, seperti misalnya di negara-negara yang berbeda, mereka dapat menjadi suatu isu yang bermanfaat dalam hal kepentingan mereka sekarang dan juga di masa depan.

Di dalam makalah ini, ada sebuah jenis kerangka kerja tertentu yang dibahas, yaitu yang berhubungan dengan isu-isu sistem informasi. Karena ada pergerakan cepat yang alami dari sistem informasi, sebuah upaya penelitian yang besar telah dilakukan untuk mengidentifikasi isu-isu manajemen sistem informasi yang kritikal, juga dalam hal memperkirakan kepentingan mereka, dan juga di dalam mengintegrasikan isu-isu yang teridentifikasi ke dalam isu-isu kerangka kerja manajemen sistem informasi yang mengacu pada tingkat kepentingan yang telah ditetapkan. Sebuah jenis kerangka kerja yang lebih fokus dan sebuah isu kerangka kerja manajemen informasi sistem yang kritikal, termasuk ke dalam isu-isu yang paling penting dan merupakan sesuatu yang memberikan pertimbangan lebih lanjut di dalam makalah ini. Beberapa studi mengenai isu kerangka kerja ini telah dikenal secara lebih umum, sementara yang lainnya masih berada di area yang lebih spesifik, seperti arena internasional, sektor publik, dan akademis. Aspek lain digunakan untuk mengidentifikasikan persamaan dan perbedaan di antara berbagai macam isu kerangka kerja yang dirasakan oleh para ahli sistem informasi dari grup atau daerah yang berbeda. Dengan demikian, beberapa studi lebih fokus terhadap perbandingan tolak ukur di antara dua atau lebih kerangka kerja isu yang berbeda-beda, dan didasarkan pada kerangka kerja yang diidentifikasi di dalam survei mereka masing-masing. Sementara itu apa yang dilakukan penelitian lain adalah uji coba sebab-akibat, menguji faktor-faktor apa saja yang akan mempengaruhi hal pokok dari isu-isu manajemen sistem informasi, dan seberapa kuat faktor-faktor tersebut memberikan dampak terhadap penilaian dari para ahli sistem informasi.

Berdasarkan tujuan utama dari studi-studi ini, kerangka kerja itu sendiri dapat diklasifikasikan ke dalam empat jenis sebagai berikut :
1. Kerangka kerja untuk identifikasi, misalnya dengan tujuan untuk mengidentifikasi isu-isu manajemen sistem informasi di berbagai macam konteks yang berbeda;
2. Kerangka kerja untuk perbandingan, misalnya yang bertujuan untuk membandingkan isu-isu kerangka kerja manajemen sistem informasi yang kritikal yang dirasakan oleh berbagai kelompok yang berbeda dari para personil sistem informasi di dalam studi yang berbeda ataupun sama;
3. Kerangka kerja yang digunakan untuk menganalisis tren atau kecenderungan, misalnya yang bertujuan untuk menganalisis isu-isu utama dan tren atau kecenderungan yang berkaitan dengan sejarah mengenai peningkatan maupun penurunan kepentingan; dan
4. Kerangka kerja untuk uji coba, misalnya yang bertujuan untuk memeriksa faktor-faktor tertentu dan mencoba untuk mengerti pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh faktor-faktor tersebut terhadap persepsi dari isu-isu manajemen sistem informasi diantara isu-isu yang telah dipelajari oleh para personil sistem informasi.

Kerangka kerja isu-isu manajemen sistem informasi yang kritis (utama)
Sebuah kerangka kerja isu-isu manajemen sistem informasi yang utama mengacu pada sebuah struktur yang terdiri dari isu-isu manajemen sistem informasi yang paling utama dan di urutkan berdasarkan tingkat kepentingannya. Di dunia yang cepat berkembang sekarang ini, terutama di dalam bidang sistem informasi, organisasi dan individual-individual yang ingin bersaing dengan efektif harus mengubah paradigma mereka dari yang sangat reaktif menjadi lebih antisipatif/menunggu (Barker, 1992). Salah satu tipe dari perilaku manajemen yang antisipatif, mengenai manajemen dan identifikasi isu, dapat membantu organisasi untuk menjadi partisipan aktif dalam membentuk masa depan, daripada hanya bereaksi terhadap hal tersebut (Coates et al., 1986). Meskipun identifikasi isu telah menjadi sebuah kegiatan penting yang bertumbuh pesat, tetapi hal tersebut belum dipraktekkan secara umum di dalam organisasi berukuran kecil sampai sedang karena identifikasi awal dari sebuah masalah yang muncul bisa menjadi sebuah proses yang sangat kompleks/rumit (Coates et al., 1986). Untuk membantu seluruh komunitas sistem informasi, maka dari itu, telah ada ketertarikan yang meningkat di dalam melakukan penelitian tentang isu-isu penting yang dihadapi para praktisi sistem informasi (Nolan dan Wetherbe, 1980). Sejak awal tahun 1980-an, para peneliti telah melakukan banyak studi untuk mengidentifikasi isu-isu manajemen sistem informasi yang penting.

Sebagian besar dari usaha-usaha penelitian sebelumnya ini bertujuan untuk pengidentifikasian isu-isu manajemen sistem informasi yang utama/penting, kemudian juga dalam hal memperkirakan seberapa penting tiap-tiap isu tersebut, dan untuk menggabungkan atau menyusun isu-isu ini ke dalam kerangka kerja isu manajemen sistem informasi sesuai dengan tingkat kepentingannya. Kerangka kerja isu-isu ini menguntungkan komunitas sistem informasi dengan menganjurkan beberapa arahan umum dan perhatian di dalam area manajemen sistem informasi untuk praktek, penelitian, dan pendidikan. Kerangka kerja dari isu-isu tersebut lebih berguna daripada identifikasi dari isu-isu tertentu karena kegiatan-kegiatan sistem informasi akan berlanjut di dalam banyak arah, jadi teknologi, strategi, struktur organisasi, individual-individual dan peran mereka, juga proses manajemen dapat dikembangkan seluruhnya (Earl, 1992; Somogyi dan Galliers, 1987).

Dengan identifikasi dari isu-isu yang penting menjadi sebuah tugas penelitian yang penting, sebuah pengertian yang lebih baik diperlukan mengingat bagaimana untuk melakukan sebuah pembelajaran dan apa yang diperlukan untuk diteliti lebih lanjut. Untuk menyediakan informasi dan bimbingan untuk penelitian lebih lanjut makalah ini me-review 20 studi kerangka kerja isu-isu manajemen sistem informasi terdahulu yang telah dipublikasikan sejak 1980. Studi-studi telah dilakukan di USA, Eropa, bagian Asia Pasifik, dan Amerika Latin. Beberapa studi bersifat lebih umum, sementara yang lainnya lebih spesifik, misalnya berkaitan dengan arena internasional, sektor publik, dan perspektif akademik. Beberapa bahkan meneliti lebih dalam lagi dengan berfokus pada perbandingan antara dua atau lebih kerangka kerja isu-isu dan/atau uji coba sebab-akibat, misalnya dengan menguji faktor-faktor mana yang akan mempengaruhi identifikasi isu-isu tersebut. Berdasarkan dari review literatur yang evaluatif dari makalah ini, makalah ini menyarankan beberapa arahan penelitian dan metodologi-metodologi yang memungkinkan untuk penelusuran lebih lanjut. Meskipun penulis hanya mendiskusikan studi mengenai kerangka kerja dari isu-isu di dalam bidang manajemen sistem informasi, namun hasilnya juga dapat diterapkan untuk penelitian kerangka kerja isu-isu di bisnis lain dan area manajemen lain.

Ruang lingkup literatur
Sebuah cara yang sesuai untuk mendapatkan sebuah pemahaman untuk membimbing penelitian ke depannya adalah dengan meninjau studi-studi yang berkaitan dan telah dipublikasikan. Jurnal dan sejenis terbitan berkala merupakan bagian utama dari sistem komunikasi formal untuk saling bertukar informasi (Boyer dan Carlson, 1989). Isi dari jurnal dan terbitan berkala tersebut biasanya akan dinilai secara kritis untuk isi yang berdasarkan pada teori. Namun, ada ratusan jurnal yang membahas mengenai sistem informasi, jadi sebuah analisis dari setiap jurnal tersebut akan menjadi penghalang (Boyer dan Carlson, 1989; Szajna, 1994), tetapi menganalisis sejumlah dari jurnal-jurnal yang bagus dapat memberikan sebuah pemahaman yang baik atas prioritas dan perhatian dari komunitas sistem informasi (Alavi dan Carlson, 1992). Sejumlah studi telah dilakukan untuk mengurutkan jurnal-jurnal yang baik di dalam area sitem informasi (e.g. Holsapple et al., 1993, 1994; Nord dan Nord, 1995). Sebagai hasilnya, dua buah daftar yang memasukkan 17 jurnal sistem informasi terbaik telah dianjurkan.

Penulis menggunakan dua penghubung untuk membimbing dalam dalam pencarian literatur tahap awal,meskipun dalam prakteknya pencarian tersebut tidak dibatasi semata-mata hanya untuk jurnal-jurnal tersebut. Kenyataannya, sebagian besar dari 20 studi yang ditinjau di makalah ini dilaporkan di dalam jurnal-jurnal dengan dua penghubung, beberapa di antaranya berasal dari jurnal lain, konferensi, dan disertasi doktoral. Apabila mereka sadar akan jalan keluar dari publikasi normal, maka para peneliti akan dapat mengetahui jurnal dan komunitas mana yang lebih tertarik dengan studi-studi di area mereka masing-masing yang mana mereka dapat saling berkorespondensi dan ke mana laporan studi tersebut biasa dikirim. 

Tabel menunjukkan di mana dan kapan studi-studi ini dipublikasikan.

Makalah ini tidak mencakup studi-studi mengenai faktor pensukses yang penting, meskipun beberapa faktor pensukses merupakan isu-isu penting/utama dari beberapa studi (Boynton dan Zmud, 1987; Martin, 1982; Rockart, 1987). Di dalam makalah ini, definisi dari faktor pensukses dan isu berbeda. Secara umum, faktor-faktor mengacu pada kenyataan atau situasi yang mempengaruhi sebuah hasil, sedangkan isu mengacu pada pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada diskusi. Faktor pensukses tersebut merupakan sesuatu yang penting dan diperlukan untuk memastikan kesuksesan (Williams dan Ramaprasad, 1996), sementara isu menyarankan arahan umum yang dapat diambil oleh eksekutif senior untuk membantu dalam formulasi perencanaan stratejik (Brancheau et al., 1996).

Beberapa isu bisa saja tidak terlalu penting bagi kesuksesan sebuah organisasi sampai implikasi potensial dan solusi yang sesuai telah diklarifikasikan melalui studi dan diskusi yang mendalam dan mencukupi. Sementara itu jumlah dari faktor pensukses seringkali dibatasi dari empat sampai tujuh faktor saja, sedangkan untuk isu bisa lebih dari itu (dilihat dari 16 sampai 37 studi yang ditinjau di dalam makalah ini.

Makalah ini juga tidak memasukkan terlalu banyak studi terdahulu yang fokus pada peninjauan dan pemahaman atas satu atau lebih isu-isu manajemen sistem informasi tertentu karena studi-studi tersebut dianggap tidak memiliki hubungan dengan isu-isu manajemen sistem informasi sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya. 

Area/bagian mana saja yang telah dipelajari?
Ikhtisar dari studi-studi terdahulu
Berdasarkan 20 makalah terdahulu, tujuan dari studi-studi ini telah diklasifikasikan menjadi empat jenis seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yakni: 
  • Kerangka kerja untuk identifikasi 
  • Kerangka kerja untuk perbandingan 
  • Kerangka kerja yang digunakan untuk menganalisis tren atau kecenderungan 
  • Kerangka kerja untuk uji coba 
Tabel menunjukkan 20 studi-studi tersebut dengan memasukkan deskripsi dari peneliti, kapan dan di mana mereka melakukan penelitian, dan apa hasil akhir utamanya. Studi-studi tersebut disajikan secara kronologis karena studi berikut pada umumnya dipengaruhi oleh studi sebelumnya yang berhubungan/berkaitan.

“Siapa” mengacu kepada para peneliti yang melakukan studi tersebut, “kapan” mengacu pada tahun dari laporan tersebut saat dipublikasikan, dan “apa” mengacu pada hasil utama yang muncul pada makalah tersebut. 

Identifikasi isu 
Sebagai bidang yang diterapkan, penelitian sistem informasi harus relevan terhadap para praktisi. Identifikasi dari sebuah kerangka kerja isu manajemen sistem informasi yang utama membantu personil sistem informasi untuk menyadari kecenderungan yang terjadi pada saat ini dan saat mendatang. Isu kerangka kerja tersebut bisa saja berubah dari satu studi terhadap studi yang lain, dengan catatan tidak ada yang statis di dalam hal ini.

Tujuan utama dari studi identifikasi adalah untuk mengumpulkan dan menganalisis persepsi-persepsi para ahili sistem informasi dengan tujuan untuk membentuk sebuah kerangka kerja yang baru. Sebuah studi (Dickson et al., 1984) mengidentifikasikan pertanyaan-pertanyaan studi sistem informasi sebagai berikut : 
  • Isu manajemen sistem informasi yang penting seperti apakah yang dirasakan oleh para ahli sistem informasi? 
  • Hal apa yang penting dari isu-isu ini? 
  • Seberapa besar persetujuan yang diberikan oleh para ahli sistem informasi terhadap isu-isu ini? 
Hampir seluruhnya dari 20 studi tersebut mengadopsi 3 pertanyaan tersebut di atas dengan konteks yang berbeda-beda. Kerangka kerja dari isu-isu tersebut dapat diklasifikasikan sesuai dengan sampel ataupun daerah geogarfis mereka. Tabel III mengkategorikan kerangka-kerangka kerja tersebut berdasarkan sampel mereka, sementara Tabel IV mengelompokkan mereka berdasarkan daerah gografisnya.



Perbandingan
Setelah beberapa kerangka kerja isu-isu manajemen sistem informasi diidentifikasi, pertanyaan yang harus dipertanyakan adalah persamaan dan perbedaan yang dimiliki dari antara berbagai macam kerangka kerja isu-isu yang diterima oleh berbagai kelompok ahli sistem informasi. Berbagai macam jenis dari perbandingan studi-studi tersebut disajikan pada Tabel di atas.

Analisis Tren/Kecenderungan
Analisis tren yang berkaitan dengan sejarah merupakan sebuah perbandingan tertentu yang telah dibuat. Analisis yang demikian fokus terhadap meneliti isu-isu apa saja yang menjadi semakin penting dan isu-isu mana yang menjadi tidak begitu penting. Analisis ini harus digambarkan dalam beberapa studi yang berkaitan dan dilakukan dalam waktu yang berbeda-beda. 

Di antara 20 studi tersebut, yang paling signifikan adalah 4 studi yang berkelanjutan dan masih berhubungan (Dickson et al., 1984; Brancheau dan Wetherbe, 1987; Niederman et al., 1991; Brancheau et al., 1996). Studi-studi tersebut disponsori oleh Society for Information Management (SIM) bagian Amerika Serikat dan dilakukan oleh MIS Research Center (MISRC) di Universitas Minnesota. Karena itulah studi-studi tersebut dijuluki studi seri SIM/MISRC. Studi-studi tersebut menggunakan metodologi yang sama, yakni Delphi study dan juga sumber data yang sama di daerah geografis yang sama. Di dalam seri SIM/MISRC tersebut, isu-isu yang diidentifikasikan di dalam seri tersebut dijadikan dasar untuk studi yang berikutnya. Sebuah analisis tren/kecenderungan dilakukan di dalam studi SIM/MISRC yang kedua, ketiga, dan keempat. Dari studi-studi tersebut dapat dilihat bahwa isu manajemen telah menjadi semakin penting, sementara isu teknologi semakin berkurang tingkat kepentingannya. Namun, beberapa isu teknologi tertentu yang berkaitan dengan arsitektur dan infrastrtuktur dari teknologi informasi juga meningkat tingkat kepentingannya pada tahun1990-an. Sebagai tambahan, banyak pula isu spesifik yang berasal dari isu-isu global yang lebih luas. Beberapa studi lain juga menganalisis kecenderungan dengan membandingkan isu-isu yang diidentifikasikan di dalam penemuan mereka dan studi-studi terdahulu tersebut.

Examination / Uji coba
Sebuah studi uji coba berfokus pada membentuk sebuah model konseptual untuk menguji faktor-faktor apa saja yang akan mempengaruhi penilaian para ahli sistem informasi dalam mengidentifikasikan isu-isu penting tersebut. Tiga di antara studi-studi tersebut melakukan hal ini. Salah satu model penelitian (Watson, 1990) memberikan saran bahwa dua faktor akan mempengaruhi identifikasi isu. Dua faktor tersebut adalah perilaku scanning manajer dan hubungan antara CEO dan CIO di perusahaan yang sama. Model konseptual lain (Mata, 1993) mengatakan bahwa identifikasi isu dipengaruhi oleh jenis industri, ukuran perusahaan (pendapatan/biaya, dan jumlah pegawai), posisi manajer sistem informasi, dan seberapa penting teknologi informasi di perusahaan tersebut. Sebuah studi yang lebih terbaru (Shi, 1998) menyarankan sebuah model konseptual untuk menguji pengaruh dari faktor-faktor tersebut terhadap identifikasi isu-isu kerangka kerja. Faktor-faktor tersebut adalah lingkungan organisasional teknologi informasi, perilaku scanning informasi individual, penggunaan teknologi informasi, pengetahuan teknologi informasi manajerial, pendidikan, pengalaman, serta pengetahuan manajemen sistem informasi dan pembentukan kemampuan. Tiga model tersebut telah diuji secara statistik dan telah disahkan. 

Bagaimana studi-studi tersebut dilakukan
Mengetahui apa yang telah dipelajari sebelumnya merupakan hal yang sangat penting untuk melakukan penelitian berikutnya dan juga untuk memahami bagaimana studi-studi yang telah dilakukan sebelumnya menyediakan informasi yang berguna untuk desain penelitian. Berikut akan dibahas mengenai metodologi yang digunakan dalam studi-studi tentang isu.

Metodologi
Berbagai macam metodologi digunakan di dalam studi-studi ini. Antara lain teknik Delphi, survei kuesioner, wawancara, dan kumpalan data sekunder. Analisis studi kasus, metodologi kualitatif, keduanya dikombinasikan dengan survei kuesioner di dalam satu studi. Tabel VI menunjukkan pemakaian dari metodologi tersebut.

Analisis Data
Sebagian besar studi yang dilakukan melakukan pengumpulan data kuantitatif dari subjek dan menganalisis data tersebut secara statistik untuk mengidentifikasikan isu kerangka kerja manajemen sistem informasi dengan menggunakan rata-rata dan standar deviasi. Urutan dari isu-isu tersebut biasanya didasarkan pada rata-rata statistik yang didapat. Semakin tinggi nilai rata-ratanya, semakin tinggi pula tingkat kepentingan dari isu tersebut. Sementara semakin rendah nilai dari standar deviasi yang didapat, semakin tinggi tingkat persetujuan yang diasumsikan terhadap isu-isu tersebut.

Berbagai macam statistik yang dilakukan oleh studi-studi ini memiliki tujuan yang berbeda-beda pula. Contohnya statistik chi-square yang dibuat oleh Pearson bertujuan untuk analisis data untuk mendapatkan keberadaan hubungan antara dua kelompok tingkat kepentingan isu yang berbeda.

Teknik-teknik Pengukuran
Pengukuran didefinisikan sebagai sebuah kegiatan yang menunjukkan kuantitas ataupun kualitas dari suatu objek yang ingin diteliti oleh peneliti. Teknik pengukuran bertujuan untuk mencapai dua tujuan yang penting, yaitu: 
  • Untuk mengkomunikasikan penemuan-penemuan ilmiah 
  • Untuk mencapai persetujuan inter-personal sebagai suatu pengesahan terhadap penemuan-penemuan tersebut. 
Sebagai tambahan, jenis statistik yang digunakan untuk menganalisis data akan bergantung dari jenis pengukuran yang digunakan (Andrews et al., 1981, Norusis, 1991). 

Nilai Skala
Ada beberapa pilihan sesuai dengan kebutuhan dari penelitian yang dilakukan. Penggunaan skala tujuh-poin atau di atasnya, bisa memberikan pilihan yang lebih banyak kepada responden. Sedangkan dengan menggunakan skala lima-poin atau kurang, maka kuesioner yang dibuat juga akan lebih spesifik dan lebih simpel. 

Respon dan Faktor Yang Berpengaruh
Jumlah dari respon dan tingkat respon sangat penting untuk studi manajemen. Metode pengumpulan data dan hubungan antara peneliti dan partisipan dapat mempengaruhi tingkat respon tersebut. Tabel VII menunjukkan studi-studi yang berkaitan dengan jumlah respon, tingkat respon, dan metode pengumpulan data dan sponsor.

Masalah Skema Kategori 
Untuk memfasilitasi diskusi, sebagian besar studi isu manajemen sistem informasi dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok yang berbeda-beda menurut elemen-elemn yang paling dominan dan dapat dilihat dari tabel berikut :